Banyak teman sesama programmer sering bertanya (atau lebih tepatnya meledek), "Hari gini kok masih pakai Pascal? Nggak mau upgrade ke yang lebih modern?"
Sambil menyeruput kopi, saya biasanya cuma senyum. Di saat orang lain sibuk gonta-ganti framework setiap enam bulan sekali, saya memilih untuk tetap di jalur Pascal (Delphi & Lazarus). Kenapa? Ini ceritanya.
Bermula dari Kebutuhan, Bukan Sekadar Tren
Saya mengenal Pascal sejak kuliah di jurusan Sistem Informasi. Saat itu, senjata utamanya adalah Turbo Pascal dan Delphi 7. Karena kampus saya isinya mayoritas pekerja dan pengusaha, saya melihat peluang. Teman-teman kuliah yang punya usaha butuh solusi digital, dan Delphi 7 + MS Access adalah cara tercepat bagi saya untuk mewujudkannya.
Meski saya menguasai HTML/CSS dan PHP native karena sempat bekerja di creative agency, hati saya tetap tertambat pada efisiensi bahasa pemrograman berbasis Pascal.
Evolusi di Dunia Rumah Sakit
Titik balik kenyamanan saya terjadi saat bekerja di sebuah RS di Batu pada 2016. Di sana, saya bertemu ekosistem SIMRS yang juga berbasis Delphi. Dari sanalah saya mengenal "amunisi" sakti seperti DevExpress, FastReport, Mydac, hingga Zeos.
Di era itu, aplikasi berbasis web masih terasa berat karena harus banyak load tab. Aplikasi desktop berbasis Pascal menawarkan kecepatan dan stabilitas yang sulit dikalahkan untuk urusan manajemen data rumah sakit yang kompleks.
Si "Spek Kentang" yang Menghasilkan
Ini bagian yang sering jadi bahan candaan. Sampai sekarang, saya masih nyaman bekerja dengan perangkat yang mungkin dianggap "fosil" oleh orang lain: Laptop Celeron RAM 4GB sejak kuliah dan PC AMD A6. Sejak 2021, saya migrasi ke Linux Lubuntu agar performa tetap kencang.
Di sinilah Lazarus dan LAMW (Lazarus Android Module Wizard) menjadi pahlawan. Dengan IDE yang ringan, saya bisa:
Membangun aplikasi desktop yang gegas.
Membuat aplikasi Android hybrid (Form Lazarus dengan tampilan HTML agar tetap estetik).
Integrasi Hybrid REST API dengan PHP untuk pelaporan lintas platform.
Prinsip saya sederhana: Modal minimal, untung maksimal. Spek PC boleh "kentang", yang penting proyek jalan terus dan cuan tetap lancar.
Kenapa Tidak Pindah ke Bahasa Lain?
Bukannya tidak mau upgrade, tapi saya memilih untuk upgrade secara horizontal. Daripada menghabiskan waktu belajar sintaks bahasa pemrograman baru yang terus berganti setiap musim, saya memilih menghabiskan waktu luang untuk membaca buku:
The Lean Startup & Business Model Canvas
Branding & Visual Marketing
Manajemen Keuangan, Rumah Sakit, hingga Scrum.
Sebagai Fullstack Developer sekaligus pemilik software house, saya butuh alat yang sudah saya kuasai luar kepala agar bisa fokus ke logika bisnis dan manajemen proyek.
Penutup: Pascal di Era AI
Tahun 2026 ini, meski AI sudah menjamur, saya masih merasa sangat lancar coding Pascal tanpa bantuan AI sekalipun. Kalaupun butuh bantuan, paling hanya sekadar diskusi logika dengan Gemini.
Pascal bukan tentang masa lalu, tapi tentang efisiensi dan penguasaan. Selama aplikasi yang saya bangun tetap solutif bagi klien dan stabil untuk bisnis mereka, Pascal tetap akan menjadi senjata utama saya.
Salam satu kode

0 komentar